Obsesi Ngintip Muatan Cabul
Oleh Abahe Iam
Oleh Abahe Iam
KASUS video mesum dengan pemeran (mirip) Luna Maya, Ariel Peterpan, dan Cut Tary masih ramai diperbincangkan. Pemerhati anak mengkhawatirkan anak-anak akan mengunduhnya. Polemik yang dimunculkan berita tersebut mampu menggeser isu lain yang lebih urgen. KPI mengedarkan imbauan hingga teguran keras kepada media massa untuk tidak mengutip potongan adegan dalam video ''hot'' itu.
Voyeurisme
Fenomena itu bisa disebut sebagai gejala voyeurisme. Yaitu, keingintahuan yang telah melorot menjadi obsesi ngintip dan bergosip pada lingkup personal maupun sosial. Biasanya, itu adalah asal-muasal sekaligus hasil kultus selebriti yang dirayakan masal. Voyeurisme tersebut adalah konsumerisme visual. Selebriti adalah objeknya. Media massa menjadi pelatuknya.
Sekurangnya, ada tiga unsur yang menandai voyeurisme masal ini. Pertama, ia berisi kultus selebriti. Sosoknya disulap genit, kisahnya dibuat bagai dongeng. Kita meniru cara dandan, cat rambut, gaya bicara, serta memburu gambar dan omongan mereka dari hari ke hari.
Kedua, klise masal tersebut berisi kultus gaya hidup. Sosoknya dipasang sebagai ukuran prestise dan status. Kita bagai kawanan yang, karena tidak sempat diam, dengan mudah digiring untuk memburunya. Itulah klise masal yang dipicu media pesolek, propaganda keyakinan bahwa hidup merupakan salinan iklan. Biasanya, kultus gaya hidup itu terbentuk berkombinasi dengan kultus selebriti.
Ketiga, klise masal tersebut menyangkut pengeboran basic instinct hasrat dan sensualitas. Jutaan gambar, gosip, dan simulacra yang terpajang terlihat atau terdengar sebagai informasi. Namun, lebih mungkin menjadi informasi bagi voyeurisme atau voyeurisme itu sendiri. Ia sebentuk narsisisme dengan gerak-gerik selebriti sebagai cermin untuk mengaca.
Ada perbedaan antara hiburan dan voyeurisme, juga bila tidak mudah menetapkan pembatasnya. Melewati batas itu, media akan terpelanting. Bukan lagi media hiburan, tapi voyeurisme. Lewat proses ini, biasanya media perlahan mundur dari misinya memberikan informasi, mendidik, dan menghibur karena kemudian bergeser menjadi medium voyeurisme. Yang terbentuk dari gabungan tiga klise masal itu disebut Václav Havel sebagai the aesthetics of banality (estetika kedangkalan).
Ekonomi-Politik Libido
Seperti sering ditunjuk, sistem rating menjadi kunci memahami duduk perkaranya. Tapi, statistik rating akhirnya sekadar menjadi jendela bagi kita untuk menebak isi gejala. Karena itu, yang dibutuhkan adalah melewati angka dan menembus isi gejala. Mulailah dari pertanyaan berikut, ''Mengapa program voyeuristis itu amat laku?'' Alkisah, jawaban mainstream akan bilang, ''Sebab, itulah permintaan (demand) khalayak!''
Lalu, tanyakan lebih lanjut, ''Dari mana asal-muasal permintaan itu?'' Para penjual program mungkin akan bilang, ''Dari selera pemirsa!'' Mereka yang sedikit skeptis akan mengajukan pertanyaan mengejar, ''Apakah selera pemirsa terbentuk dengan sendirinya?'' Pada titik inilah persimpangan jawaban semakin tajam.
Bila pertanyaan terakhir itu dijawab ''ya'', kita akan tertawa tergelak. Sebab, kita tahu, berondongan program voyeuristis yang makin intensif tersebut telah menjadi pasokan yang membentuk permintaan. Karena itu, permintaan terutama tidak dibentuk oleh otonomi selera pemirsa, tapi oleh pasokan program yang disajikan media. Proses itulah yang lalu membentuk gerak spiral selera pemirsa pada voyeurisme. Yang ditunjuk sistem rating hanya ujung sementara pada puncak spiral itu, sekian persen pemirsa suka program voyeuristis. Tentu, spiral itu akan bergerak kian menjulang.
Ada pertanyaan yang tetap memburu, apakah benar program-program voyeuristis itu disajikan untuk menghormati selera pemirsa? Inilah soal paling krusial yang amat jarang dijawab. Tampaknya, jawabannya tidak terletak pada kajian media, tapi pada kaitan antara psikoanalisis dan ekonomi-politik. Isinya menyangkut urusan praktis yang bertalian erat dengan masalah konseptual.
Pemirsa bukanlah tujuan, tapi tambang emas bagi media massa yang sedang bergeser menjadi bisnis media. Target utamanya bukan to inform, to educate, dan to entertain seperti yang dicita-citakan, tapi bagaimana menciptakan tambang laba dari hasrat pemirsa/pembaca. Jalan pintasnya adalah masuk memainkan kawasan basic instinct manusia yang bersifat libidinal.
Sebagaimana kita belajar dari psikoanalisis, tidak ada batas pada libido manusia. Ia laksana sumur tanpa dasar. Inilah kawasan sensous dan desirous kita yang terus-menerus digali serta dimainkan dalam proses komersialisasi. Sebagaimana kita ketahui, tentu saja proses itu terjalin melalui perkawinan tiga unsur: tayangan prime time, voyeurisme, dan iklan. Yang pertama menyangkut timing, yang kedua hasrat libidinal, dan ketiga tambang laba. Lugasnya, voyeurisme media adalah sebentuk ''ekonomi libido''.
Berikutnya, masalah konseptual yang terlibat dalam gejala itu mungkin bisa dimulai dari pertanyaan ini, ''Gagasan apa yang memungkinkan perluasan ekonomi libido itu?'' Tampaknya, kuncinya terletak dalam sejarah perkembangan ilmu ekonomi sendiri.
Pergeseran -entah sebagai ''kemajuan'' atau ''kemunduran''- dari ekonomi-politik klasik (Adam Smith, David Ricardo) ke ekonomi neoklasik (Karl Menger, Léon Walras, William Jevons) salah satunya menyangkut pergeseran konsep ''nilai ekonomi'' (value). Nilai ekonomi tidak lagi diletakkan pada nilai guna material (material use value), tapi pada antisipasi kepuasan hasrat (desire). Kawasan yang menyangkut hasrat manusia menjadi target penciptaan nilai tukar ekonomi.
Itulah proses yang mengantar perebakan bisnis gaya hidup, hiburan, dan voyeurisme. Itu pula proses yang kemudian makin merekatkan dua bidang yang terlihat berbeda: psikologi dan ekonomi.
Ranah Privat v Publik
Berkaca pada kasus ini, terdapat poin yang perlu dikritisi. Jika mengacu pada UU No 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), memang telah berlangsung konsepsi ''jika telah terjadi'' pendistribusian atau pentransmisian informasi/dokumen elektronik.
Tapi, dalam konteks ini, kita bisa melihat niat awal pembuat video mesum itu. Apakah sejak semula pembuatnya berniat menyebarluaskan kepada publik? Dalam UU ITE, hal tersebut tidak dibahas sama sekali. Tidak secuil pun pasal yang mengatur ''niat awal'' pembuat karya tersebut untuk sengaja ditransmisikan atau untuk konsumsi privat.
Terlebih, dalam kasus tertentu, bukan pembuat yang mentransmisikan, tapi pihak lain. Tentu saja hal itu berkaitan dengan beragam motif. Bisa dalam rangka kepentingan keuntungan ekonomi semata, balas dendam, membunuh karakter, memfitnah, atau menista pembuat karya tersebut.
Jadi, terlepas dari soal moral pelaku video mesum itu, khalayak harus diingatkan untuk menekan hasratnya ''ngintip''. Masih banyak isu yang perlu dikritisi. Isu yang berkaitan dengan kepentingan dan kebutuhannya. Juga, masih banyak kegiatan yang lebih produktif daripada memelototi materi ''sampah'' itu. (*)
*) Abahe iam, Guru MI.Choiriyahh Jawa Timur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar